10 Alat Musik Tradisional Aceh LENGKAP!

Posted on

Alat Musik Tradisional Aceh – Provinsi yang berdekatan dengan Kep. Andaman dan Nikobar di India terletak pada ujung utara pulau Sumatera dan menjadi daerah yang terletak paling ujung barat di Indonesia. Dengan jumlah penduduk yang lebih dari 4 906.84 (ribu jiwa)[sumber], membuat Aceh kaya akan potensi sumber daya alam dan manusianya.

alat musik tradisional aceh
Gambar alat musik tradisional aceh | Alat musik tradisional aceh beserta gambarnya

Selain memiliki kekayaan minyak bumi dan gas alam yang berlimpah, hasil dari sejumalh analisa memperkirakan bahwa cadangan gas alam di Aceh adalah yang terbesar di dunia[sumber]. Selain itu, Aceh juga memiliki hutan yang terletak di sepanjang rentetan bukit barisan dari Kutanace sampai Ulu Masen.

Alat Musik Tradisional Aceh

Berbicara tentang budaya dan kesenian, Aceh merupakan salah satu daerah yang kaya akan kesenian dan budaya galibnya, selain itu Aceh juga memiliki beberapa kesenian tari-tarian dan alat musik tradisional Aceh rifai misalnya, atau alat musik tradisional aceh arbab yang mungkin kita sering dengar namanya. Berikut adalah alat musiknya :

1. Arbab

alat musik tradisional arbabArbab adalah alat musik tradisional Aceh dan cara memainkannya adalah dengan cara digesek, alat musik tradisional ini biasanya digunakan dalam acara pertunjukkan hiburan rakyat seperti pasar malam atau pawai dan sebagainya.

Arbab terdiri dari 2 bagian yaitu arbabnya dan juga penggeseknya,. Arbab pernah berkembang di daerah Pidie, Aceh Besar dan Aceh Barat. Lagu yang dibawakan umumnya berupa cerita pendek yang diselingi dengan humor-humor ringan yang mudah ditangkap para pendengar

Cara Membuat Arbab & Penggeseknya

Menurut infonya, instrumen Arbab memakai bahan dari tempurung kelapa, kulit kambing, kayu dan dawai dalam pembuatannya. Sedangkan untuk penggeseknya berbentuk busur terbuat dari serat tumbuhan, rotan serta kayu. Bisa dibilang benda ini termasuk kerajinan tangan dari Aceh.

2. Bangsi Alas

alat musik tradisional bangsi alasBangsi atau Bansi adalah jenis alat musik tradisional Aceh yang dimainkan dengan cara ditiup. Bangsi memiliki panjang kurang lebih 41cm dan diameter sekitar 3 cm dan memiliki 7 lubang tepat dibagian atas yang berfungsi untuk mengatur melodi seperti apa yang ingin dikeluarkan

Sayangnya, pembuatan bangsi dahulunya sering identik dengan adanya kabar duka meninggal dunia seorang warga kampung tempat bangsi dibuat. Apabila dibuat untuk menghormati orang yang meninggal tersebut, nantinya bangsi yang sudah dibuat dihanyutkan di sungai.

Judul lagu yang biasanya dimainkan dengan alat musik tradisional nanggroe aceh darussalam Bangsi, antara lain:

  • Canang Ngaro
  • Canang Ngarak
  • Canang patam-patam
  • Canang Jing Jing Tor
  • Tangis Dillo

Penggunaan bangsi di tanah Alas dulunya digunakan sebagai pengiring Tarian Landok Alun, sebuah tarian khas dari desa Telangat Pagan. Tarian ini menceritakan kegembiaraan para petani yang mendapatkan rezeki dari tuhan berupa lahan baru dalam kondisi tanah yang baik.

3. Canang

alat musik tradisional canangCanang adalah salah satu dari alat musik tradisional provinsi Aceh, dapat kita temui pada kelompok masyarakat Gayo, Tamiang, dan Alas. Biasanya mereka menyebutnya dengan sebutan Canang TriengTeganing atau Keciapi.

Fungsi dari canang umumnya sebagai pengiring tarian tradisional. Canang juga digunakan sebagai penghibur bagi anak gadis yang sedang berkumpul pada masa itu. Canang dimainkan saat waktu senggang atau selepas dari sawah.

Canang dapat diartikan dalam beberapa pengertian. Dari sekian banyak alat musik tradisional di Aceh, canang secara sepintas ditafsirkan sebagai alat musik yang dipukul. Sangat disayangkan semakin majunya teknologi tidak membuat rasa ke-ingintahuan anak muda semakin tinggi akan budaya tradisional.

4. Bereguh

alat musik tradisional bereguhBereguh adalah alat musik tradisional dari Aceh yang terbuat dari tanduk kerbau. Bereguh berfungsi sebagai alat musik yang bukan sebagai hiburan, melainkan alat yang digunakan untuk berkomunikasi antar masyarakat Aceh pada zaman dulu yang hidup di tengah hutan.

Di beberapa daerah seperti Pidie, Aceh utara dan Aceh besar tentunya tau bagaiamana sejarah daerah tersebut dimasa dulunya dimana masyarakat daerah tersebut tinggal berjauhan satu sama lainnya. Dengan meniup Bereguh, kelompok lain dapat memperkirakan posisi dan jarak orang yang meniup instrumen tersebut.

Suara yang dihasilkan dan panjangnya nada sangatlah berpengaruh dari teknik yang digunakan oleh pengguna dari instrumen ini. Bereguh juga bisa anda manfaatkan jika berada di dalam hutan sehingga anda tidak terpisah dengan pemandu atau teman pendaki lainnya.

5. Talempong

talempong berasal daritalempong berasal dariTalempong Aceh adalah instrumen tradisional dengan prinsip kerja serupa seperti Sharon. Talempong diperkirakan telah berusia lebih dari 100 tahun[sumber] berada di daerah sekitar Tamiang. dan sekarang keberadaannya sudah hampir tidak pernah bisa terlihat putri bangsa yang memainkannya.

Alat musik tradisional Aceh ini umumnya dimainkan oleh kaum wanita, terutama para remajanya. Talempong dimainkan dengan cara dipukul menggunakan alat pemukul khusus. Talempong juga bisa menghasilkan nada yang melodis di telinga kita.

Bahan membuat Talempong

Talempong memiliki bahan dan struktur yang berasal dari beberapa potongan kayu (6 – 7 kayu), kayu yang biasa digunakan biasanya Tampun senguyung (ringan tapi kuat). Setiap lembaran tersebut berbeda, mulai dari yang terkecil hingga terbesar memiliki panjang berkisar 25 – 30cm, sedangkan lebarnya 6 – 8 cm.

6. Geundrang

alat musik tradisional geundrangGeundrang adalah salah satu instrumen yang bentuknya seperti gendang, alat musik tradisional Aceh ini dimainkan dengan cara dipukul pada bagian yang bergetarnya menggunakan telapak tangan atau kayu pemukul khsusu. Fungsi dari alat musik ini adalah sebagai pengatur nada dari sebuah pertunjukan.

Memainkan Geundrang

Secara umum Geundrang dimainkan dengan posisi berdiri ataupun duduk tergantung dari latar kondisi pertunjukkan. Sampai saat ini Geundrang masih sering dimainkan[source] oleh masyarakat Aceh, baik hanya sekedar seni tradisional ataupun modern.

Geundrang banyak dijumpai di daerah Aceh besar dan juga di pesisir Aceh seperti Pidie, Aceh utara, dan lainnya. Gendang tidak memiliki tangga nada, variasi nada yang hadi dari Geundrang murni berasal dari teknik memukulnya. Secara teknis kekencangan dari kulit geundrang juga akan berpengaruh pada suaranya.

Membuat Geundrang

Geundrang biasanya terbuat dari kayu nangka, kulit kambing / sapi yang tipis, ditambah dengan rotan. Pembuatannya diawali dengan membuat lubang pada potongan kayu nanga yang berbentuk silinder, dengan panjang 40-50 cm, hingga membuat ronga yang menembus masing – masing ujungnya.

Selanjutnya kulit hewan ternak yang sudah disiapkan tadi dipasang pada kerangka rotan dan dipasangkan di masing-masing pangkal Geundrang. Pemukul Geundrang terbuat dari kayu yang ujungnya sedikit bengkok dan berbentuk pipih, tongkat ini memiliki panjang kurang lebih 40 cm.

7. Rapai

alat musik tradisional rapaiRapai merupakan instrumen ritmis yang dibuat dari kayu dan kulit ternak (lembu). Menurut Z.H Idris[source], alat musik rapai ini berasal dari Irak (Bahdad) dan dibawa ke Indonesai oleh seorang penyiar agama Islam bernama Syeh Rapi.

Macam-macam Rapai

Dalam melakukan pertunjukkan, Rapai dimainkan oleh 8 – 12 orang yang dikenal dengan sebutan awak Rapai, alat musik ini berfungsi untuk mengatur tempo irama bersama dengan serune kalee. Berdasarkan fungsinya alat musik ini memiliki berbagai jenis, antara lain:

  • Rapai Pulot
  • Rapai Pasee (rapai gantung)
  • Rapai Daboih
  • Rapai Geurimpheng (rapai macam)
  • Rapai Anak/tingkah
  • Rapai kisah

Rapai memang mirip dengan rebana pada umumnya yang dimainkan dengan cara dipukul, alat musik ini berbentuk seperti panci dengan berbagai ukuran. Rapai memang bisa dimainkan sendirian, namun akan lebih bagus jika dimainkan dengan teknik pukulan yang berbeda – beda.

8. Serune Kalee

alat musik tradisional serune kalee
Gambar serune kalee

 

Alat musik tradisional Aceh yang satu ini berbentuk seperti sebuah terompet yang memang memiliki ciri khusus dari Aceh, bentuknya menyerupai klarinet dan memanjang, ketika dimainkan biasanya Serune kalee diiringi dengan alat musik lain seperti geundrang, rapai, dan sejumlah instrumen tradisional lainnya

Serune kalee sampai saat ini masih digunakan untuk acara-acara tradisional seperti penyambutan tamu, pernikahan, atau sekedar acara hiburan semata serune kalee selalu menghiasi acara tersebut.

Pembuatan Serune Kalee

Untuk membuat alat musik serune kalee, para pengrajin membutuhkan kayu yang dipilih sebagai bahan dasar, mereka memilih kayu dengan karakteristik kuat dan keras namun harus ringan. Sebelum dibuat menjadi alat musik, kayu tersebut direndam air selama 3 bulan lamanya.

Setelah perendaman kayu dipangkas hingga tersisa bagian tertentu yang akan dijadikan alat musik yang biasanya disebut “hati kayu”. Bagian tersebut nantinya akan dibor untuk membentuk lobang dengan diameter sekitar 2 cm. Selanjutnya tinggal membuat lubang – lubang nada yang ada 6 buah.

9. Taktok Trieng

alat musik tradisional taktok trieng
Gambar alat musik tradisional taktok trieng

Seperti alat musik rapai, Taktok Trieng juga dimainkan dengan cara dipukul, alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu. Alat musik ini mudah kita jumpai di daerah Aceh besar dan Kab. Aceh lainnya.

Menurut daerah asalnya, Taktok Trieng dikenal dengan 2 macam, yakni yang di pergunakan di Meunasah, di balai-balai pertemuan dan di tempat lain yang di lihat wajar untuk meletakkan alat ini. Lalu yang kedua adalah yang dipergunakan di sawah-sawah guna mengusir hewan seperti burung atau serangga lainnya yang berpotensi merusak panen

10. Tambo

alat musik tradisional tamboTambo adalah salah satu alat musik tradisional Aceh yang dipukul menggunakan alat pemukul yang dibuat sepasang, mungkin saat pertama kali mendengar jenis musik ini anda berfikiran bahwa ukurannya mungkin seperti gitar atau alat musik biasanya, jangan salah Tambo berukuran cukup besar untuk dibawa oleh 1 orang.

Pada masa-masanya tambo dimanfaatkan untuk tujuan mengumpulkan masyarakat untuk membahas atau sekedar bermusyawarah di tempat tertentu, biasanya Tambo diletakkan di Meunasah yang jika nantinya ada keperluan mendadak mereka bisa langsung memanggil warga.

Dalam pembukaan sebuah acara yakni Pekan Nasional Kontak Tani Nelayan Andalan (Penas KTNA) yang dibuka oleh Bapak Presiden Joko Widodo di Banda Aceh juga menggunakan Tambo sebagai alat pembukanya[source]. Penggunaan tambo sekarang sudah semakin jarang karena teknologi microphone yang canggih


Perkembangan dan penggunaan alat modern memang semakin membantu kinerja manusia dan membuat pekerjaan menjadi lebih efisien dan menghemat waktu serta tenaga, tetapi dilain waktu kita juga harus tetap melestarikan kebudayaan yang ada, sehingga penerus bangsa kita tetap mengetahui jati diri bangsanya

Semoga dengan artikel yang saya tulis tentang alat musik tradisional Aceh dan penjelasannya ditambah dengan gambar alat musik tradisional nanggroe Aceh darussalam diatas dapat mempermudah anda yang ingin mengenal lebih dalam tentang budaya dan kesenian di Aceh sana.

Tentunya saya mengajak anda untuk ikut berpartisipasi dalam melestarikan budaya daerah kita, mungkin untuk mengetest seberapa besar keingin tahuan kita, anda bisa mencoba dengan tuliskan 6 alat musik tradisional Aceh setelah membaca artikel ini tanpa melihatnya lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *